JobBoard - Professional Workplace Template

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit...

  • Post a CV

    Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessment.

  • Get a Interview Call

    Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessment.

  • Get an awesome job

    Medecins du Monde Jane Addams reduce child mortality challenges Ford Foundation. Diversification shifting landscape advocate pathway to a better life rights international. Assessment.

  • We found Few available jobs for you

    27 Nov 2012

    Mangrove (1) " Definisi "

    Selasa, November 27, 2012


    Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

    Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove. 
    Komuitas Rizhopora Di Sepanjang Sungai Mahakam Desa Sepatin Kec. Anggana
    Kalimantan Timur Taken By : Ijal (YmL)
    Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).
    Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah.

    26 Nov 2012

    Yayasan Mangrove Lestari Delta Mahakam

    Senin, November 26, 2012
    YML-Delta Mahakam sebuah lembaga yang didirikan pada tanggal 21 Februari 2012 oleh komunitas masyarakat Lokal/ Stakeholder di kawasan Delta Mahakam yang beroroientasi kegiatan lingkungan dan upaya pemulihan dan pelestarian hutan mangrove secara berkesinambungan dan seimbang           ( Integrated, Sustainable, and Equility), sehingga menjadikan komitmen yayasan untu dapat secara langsung turut serta dalam upaya pemulihan kawasan, dan menjadikan kawasan ini pada kondisi ideal.


    Layanan  :
    1.  Layanan Pendataan dan Potensi Hutan Mangrove
    2.  Layanan Pendampingan Pengelolaan Sumberdaya Hutan Mangrove
    3.  Layanan Pelatihan dan Ujicoba Teknologi Pengelolaan Sumberdaya    Hutan Mangrove
    4.  Layanan Penyedia Bibit, Jasa Penananman dan Monitoring
    5.  Layanan Rehabilitasi
    6.  Penataan Sempadan sebagai Zona Green Belt

    Contact Us :

    Alamat Kantor : Perumahan Pondok  Surya Indah Blok CC No 17 Jalan
                               P.M Noor Sempaja Samarinda Kalimantan Timur
    Email               : yml_deltamahakam@yahoo.co.id
    Phone               :  081213470222 / 085255649808


    Degradasi Mangrove di Delta Mahakam

    Senin, November 26, 2012
    Mangrove sebagai salah satu sumber daya alam yang tumbuh di kawasan pantai, merupakan ekosistem unik. Ekosistem hutan mangrove menjadi ekosistem penyambung atau interface antara daratan dan lautan .

    Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.

    Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob.

    Mangrove di Delta Mahakam

    Tidak  dapat  dipungkiri  kawasan  Delta Mahakam  yang  sebelumnya dominan  diselimuti  hamparan  Mangrove,  kini  telah  mengalami  perubahan akibat  pemanfaatan  dan konversi  bagi  peruntukan  lain,  di antaranya pertambakan,  industri,  pemukiman  dan  lain-lain. 

    Konsekuensi  yang  dapat dilihat  bahwa  di beberapa  bagian  dari  kawasan  Delta Mahakam,  telah terjadi  degradasi  lingkungan  diantaranya  berupa  erosi  garis  pantai  dan sempadan  sungai,  sedimentasi,  pencemaran  serta  berkurangnya  fungsi-fungsi  ekologi  dan  ekonomi  kawasan. 

    Seandainya  hamparan  Mangrove yang  cukup luas melingkupi  kawasan  Delta Mahakam  dapat  dijaga kelestariannya,  maka  degradasi  lingkungan  dan  sumberdaya  alam  dapat diminimalisir,  dan  pada  akhirnya  produktivitas  kawasan  yang  sangat penting  bagi  kehidupan  sebagian  besar  masyarakat  di kawasan  ini dapat dipertahankan.

    Karena  itu kini  disadari  betapa  penting  peran  Mangrove secara  ekologi,  khususnya  sebagai  habitat  beragam  fauna  terrestrial  dan akuatik  dan penyedia  jasa  pendukung  kehidupan  diantaranya  bagi perlindungan  garis  pantai  dan  sempadan  sungai.

    Selain  itu sebagai  ekosistem  unik,  Mangrove  juga berperan  penting  secara  ekonomi,  diantaranya sebagai  penyedia  sumberdaya  alam  potensial  baik hayati  maupun  nir-hayati  bagi  masyarakat,  daerah bahkan  nasional. 

    Karena  itu, Mangrove  Delta Mahakam  sudah  selayaknya  dipertahankan keberadaan  dan  kualitasnya. Untuk  dapat  mempertahankan  keberadaan  dan kualitas  Mangrove  Delta Mahakam,  diperlukan suatu  pengelolaan  yang  berkelanjutan.  Keberhasilan  suatu  pengelolaan sangat  bergantung  pada  ketersediaan  data dan  informasi  mengenai Mangrove  itu sendiri. 

    Data dan  informasi  Mangrove  sangat  berguna bagi  penyusunan  kebijakan  pengelolaan  Delta Mahakam  yang  efektif dan  tepat  sasaran  bagi  keberlanjutan  ekosistem  dan  sumberdaya  alam Delta  Mahakam.  Untuk  itulah  serangkaian  informasi  aktual  yang  disajikan di  sini,  diharapkan  dapat  menjadi  acuan  bagi  para  pemangku  kepentingan, termasuk para  pengambil  kebijakan,  untuk memahami  dengan  cepat dan  komprehensif  tentang  Mangrove  Delta Mahakam.

    PEMBIBITAN MANGROVE

    Senin, November 26, 2012

    Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara menanam langsung buah mangrove (propagul) ke areal penanaman dan melalui persemaian bibit. Penanaman secara langsung tingkat kelulushidupannya rendah (sekitar 20-30 %). Hal ini karena pengaruh arus laut pada saat pasang dan pengaruh predator. Sedangkan dengan cara persemaian dan pembibitan, tingkat kelulushidupannya relatif tinggi (sekitar 60-80%).

    A. Penyiapan buah (propagul)
    Propagul mangrove diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat. Buah dapat diperoleh dengan cara mengambil buah-buah yang telah jatuh atau memetik langsung dari pohonnya. Sebaiknya, pengumpulan buah dilakukan secara berulang dengan interval waktu tertentu. Pada saat memetik buah secara langsung dari pohon induknya harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai bunga dan buah yang belum matang berjatuhan.

    Untuk memperoleh buah yang baik, dapat dilakukan antara bulan September sampai dengan Maret. Seleksi buah tergantung pada karakteristik jenisnya. Namun biasanya, buah dipilih berasal dari buah yang matang, sehat, segar dan bebas dari hama.

    Ciri kematangan dapat dilihat dari warna kotiledon, warna hipokotil, berat buah atau ciri lainnya. Sebelum digunakan untuk pembibitan, buah dapat disimpan sementara waktu. Buah dimasukkan dalam ember atau bak yang berisi air penuh, dengan posisi tegak, dan diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Lama penyimpanan maksimal adalah 10 hari.

    B. Pembibitan
    Berikut ini diterangkan mengenai bagaimana tata cara pembibitan beberapa jenis mangrove

    a.       Rhizophora spp
    Buah yang digunakan untuk pembibitan, sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia diatas 10 tahun. Buah yang baik, dicirikan oleh hampir lepasnya hipokotil dari buahnya. Buah yang sudah matang dari Rhizophora spp, dicirikan dengan warna buah hijau tua atau kecoklatan, dengan kotiledon (cincin) berwarna kuning atau merah.

    Media yang digunakan untuk pembibitan adalah sedimen dari tanggul bekas tambak atau sedimen yang sesuai dengan karakteristik pohon induknya. Media dibiarkan selama kurang lebih 24 jam agar tidak terlalu lembek. Media tanam yang sudah disediakan, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam (polibag) berukuran lebar 12 cm dan tinggi 20 cm, yang telah diberi lubang keci-kecil kurang lebih 10 buah.

    Buah disemaikan masing-masing 1 buah dalam setiap polibag. Buah ditancapkan kurang lebih sepertiga dari total panjangnya (± 7 cm). Setiap 6-10 benih, diikat menjadi satu agar tidak mudah rebah, ikatan dibuka setelah daun pertama keluar. Daun pertama akan keluar setelah 1 bulan, daun ketiga akan keluar setelah 3 bulan.


    b.      Bruguiera spp
    Buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun. Buah dipilih yang sudah matang dicirikan oleh hampir lepasnya batang buah dari bonggolnya dan warna hipokotil merah kecoklatan atau hijau kemerahan.

    Buah yang terkumpul tidak perlu dicuci dengan air tapi cukup dibersihkan dengan lap dan dipilih buah yang seagar, sehat, bebas hama dan penyakit, belum berakar dan panjang hipokotilnya 10-20 cm. Kelopak buah jangan dicabut atau dilepaskan dengan paksa karena dapat merusak buah. Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizophora spp.

    Semua pekerjaan selalu dilakukan di bawah naungan (tidak mendapat sinar matahari secara langsung), supaya buah tidak kering. Sebelum penyemaian, polibag dibiarkan tergenang oleh pasang. Penyemaian dilakukan pada awal pasang purnama, dimana penggenangnya dapat mencapai hipokotil benih. Penyemaian Bruguiera spp seperti pada Rhizophora spp, tetapi tidak usah diikat.

    a.       Ceriops spp
    Ciri kematangan buah adalah kotiledon berwarna kuning dengan panjang kotiledon 1 cm atau lebih dan hipokotil berwarna hijau kecoklatan. Buah yang terkumpul dicuci bersih dan buahnya dilepas. Kemudian, dipilih benih yang panjang hipokotilnya 20 cm atau lebih. Penyiapan media untuk Ceriops spp sama dengan penyiapan media semai Rhizophora spp. Penyemaian benih Ceriops spp sama dengan Bruguiera spp.

    b.      Excoecaria spp
    Warna buah dari Excoecaria spp yang telah matang adalah kuning kecoklatan. Buah berbentuk bulat kecil-kecil dan akan jatuh setelah matang. Biji dipilih yang padat dan mempunyai diameter 3 mm atau lebih. Media yang digunakan untuk pembibitan sama dengan Rhizopora spp.

    Excocaria spp pembibitannya tidak langsung dilakukan pada polibag. Biji dari Excoecaria spp ditebar di parit yang berisi media dan terlindung dari cahaya matahari secara langsung. Parit dibuat di darat untuk menghindari biji terbawa arus. Setelah daun Excoecaria spp tumbuh 3-5 buah, bibit bisa dicabut dan dipindahkan ke polibag. Setiap satu polibag ditanami satu bibit.

    c.       Avicennia spp
    Ciri kematangan buah adalah warna kulit buah kekuningan, dan kadang kulit buah sedikit terbuka. Buah yang sudah matang mudah terlepas dari kelopaknya. Buah dilepas dari kelopaknya dan dipilih benih yang bebas hama dan beratnya 1,5 gram atau lebih. Setelah kelopak dilepas, buah direndam dalam air selama satu hari agar terkelupas kulitnya. Buah yang belum terkelupas kulitnya, dapat dikupas dengan tangan. Kemudian, buah dipindahkan ke dalam ember berisi air payau yang bersih. Penyiapan media semai Avicennia spp tidak berbeda dengan Rhizophora spp. Polibag disiram hingga cukup basah, barulah dilakukan persemaian. Benih disemaikan masing-masing satu buah dalam satu polibag, dengan cara ditancapkan kurang lebih sepertiga panjang benih ke dalam tanah/media.

    C. Persemain bibit mangrove

    1. Pemilihan tempat

    Tempat yang akan digunakan untuk persemaian bibit dipilih lahan yang lapang dan datar. Jaraknya dengan lokasi tanam diusahakan sedekat mungkin supaya lebih efektif dalam pengangkutan bibitnya. Lahan yang digunakan untuk pembibitan harus terendam saat air pasang dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak memerlukan penyiraman.

    2. Pembuatan bedeng persemaian

    Bedeng dibuat dari bambu yang kuat. Ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya berukuran 1×5 m atau 1×10 m dengan tinggi 1,5–2 m. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah, kelapa, ijuk, rumbia, alang-alang atau sejenisnya. Media (dasar) bedeng adalah tanah lumpur di daerah sekitarnya.

    Di atas media (dasar) dilapisi plastik yang tebal untuk mencegah agar akar tidak menembus ke dalam tanah. Bila dibuat lebih dari 1 bedeng, bedeng satu dengan bedeng lainnya diberi jarak setengah meter, yang digunakan sebagai jalan kerja. Untuk mempermudah jalan, di sekitar bedeng dibuat jembatan. Bedeng berukuran 1×5 m dapat menampung bibit dalam polibag ukuran 10×50 cm atau dalam botol air minuman bekas (500 ml) sebanyak 1200 bibit, atau sebanyak 2250 unit untuk bedeng berukuran 1×10 m.

    Itulah sekelumit proses pembibitan mangrove

    22 Nov 2012

    Bekantan on Delta Mahakam " Populasimu Kini Tak sebesar Hidungmu "

    Kamis, November 22, 2012
    YML Delta Mahakam, pada hari Senin tanggal 21 November 2012 Yayasan Mangrove Lestari bersama dengan Mr. Fabien (Planete Urgence) dan Mr. Peter Mackay seorang Konsultan dari Australia melakukan perjalanan di sekitaran Muara Pantuan dan Tanjung Barukang desa Sepatin Kecamatan Anggana Samarinda untuk menyaksikan langsung kehidupan Bekantan atau biasa disebut Monyet Belanda yang  merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan (Indonesia, Brunei, dan Malaysia). Bekantan merupakan sejenis kera yang mempunyai ciri khas hidung yang panjang dan besar dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Dalam bahasa ilmiah, Bekantan disebut Nasalis larvatus.
    Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Nasalis larvatus larvatus terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan sedangkan Nasalis larvatus orientalis terdapat di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan.
    Seekor bekantan di rimbunan Mangrove di Muara Pantuan Delta Mahakam


    Ciri-ciri dan Habitat Bekantan. Hidung panjang dan besar pada Bekantan (Nasalis larvatus) hanya dimiliki oleh spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Kera betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai Monyet Belanda.
    Keberadaan "Monyet Tampan" ini kian menyusut, pupulasi nya semakin berkurang seiring dengan semakin menurunnya kawasan habitat mereka akibat berbagai aktivitas yang kurang memperhatikan pelestarian lingkugan.

    17 Nov 2012

    Survey Lokasi

    Sabtu, November 17, 2012
    PhotobucketPhotobucketSurvey Lokasi di Muara badak bersama Tim Planete Ungence dimaksudkan untuk melihat kondisi aktual lokasi penanaman mangrove Jenis mangrove Rhizophora sp yang tumbuh alami di dalam tambak Photobucket Lokasi penanaman yang terkena abrasi

    16 Nov 2012

    About Delta Mahakam

    Jumat, November 16, 2012
    Lokasi delta mahakam.jpgDelta Mahakam merupakan suatu kawasan delta yang terdiri dari beberapa pulau yang terbentuk akibat adanya endapan di muara Sungai mahakam dengan Selat Makassar, Kalimantan Timur. Jika dilihat dari angkasa, kawasan delta ini berbentuk menyerupai bentuk kipas. Kawasan Delta Mahakam memiliki luas sekitar 150.000 ha (termasuk wilayah perairan). Namun jika dihitung luas wilayah daratan saja, luas kawasan ini mencapai kurang lebih 100.000 ha.
    Secara administratif, kawasan Delta Mahakam berada dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya berada di Kecamatan Anggana, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga.
    Kawasan Delta Mahakam merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam, terutama minyak bumi dan gas alam (migas). Cadangan terbesar terdapat di lapangan Peciko dan Tunu yang kini dieksploitasi perusahaan migas multinasional asal Prancis, Total E&P Indonesie.

    Headline
    Jika dilihat dari angkasa maka delta ini berbentuk menyerupai kipas dengan luas kawasan sekitar 150 ribu hektare termasuk wilayah perairan. Secara administratif kawasan Delta Mahakam berada dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara tepatnya di Kecamatan Anggana, Muara Jawa dan Sangasanga.
     Delta Mahakam terbentuk dari hasil sedimentasi Sungai Mahakam, sebuah sungai terpanjang di Kalimatan Timur, selama ribuan tahun. Luas datarannya adalah sekitar 1700 km2 yang terbagi menjadi 4 zona vegetasi, yaitu: hutan tanaman keras tropis dataran rendah, hutan campuran tanaman keras dan palma dataran rendah, hutan rawa nipah dan hutan bakau (Gambar 1). Dua zona vegetasi yang terakhir, karena penyebarannya tergantung pada keberadaan air laut, seringkali disebut bersama-sama sebagai hutan mangrove, dan menutupi 60% luas dataran delta. Sistem perakaran hutan mangrove yang kokoh mampu menahan empasan ombak dan mencegah abrasi pantai, membuatnya berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone).
    Sebaran hutan mangrove di dataran Delta Mahakam, yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur, mengalami degradasi akut. Kawasan yang memiliki arti penting bagi lingkungannya tersebut telah digantikan oleh ribuan hektar tambak udang semenjak krisis moneter di tahun 1997, yang didorong oleh harga udang ekspor yang melejit. Setelah periode kemakmuran yang sangat singkat tersebut, hanya sekitar 5 tahun dan dimana sebagian besar keuntungan lari kepada investor luar, penduduk setempat kini menghadapi lingkungan yang rusak. Kualitas air minum menurun, ternak udang terkena penyakit, erosi pantai dan sungai meningkat, konflik horisontal penggunaan lahan meruncing, dan potensi perikanan di kawasan hutan mangrove merosot drastis.

     

     

    Featured Employers

    Great HTML Template made with clean Codes. Which will make you proud of your Business, Portfolio, Photography, Blog, and much more.

    What Client Says?

    Incidunt deleniti blanditiis quas aperiam recusandae consequatur ullam quibusdam cum libero illo rerum!

    -STEVE ANDREW
    Espenol INC.